Tampilkan postingan dengan label Forum Hijau Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Forum Hijau Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

Kiat Aman Menggunakan kemasan Makanan

Repost dari Forum Hijau Indonesia

FORUMHIJAU.COM - Kejelian konsumen penting artinya dalam menghindari makanan yang tak layak konsumsi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat atau konsumen adalah ketelitian dalam memilih kemasan yang aman untuk kesehatan. Masyarakat juga harus pintar dalam memilih makanan dalam kemasan serta bijaksana menggunakan kemasan yang aman, karena hal ini merupakan salah satu bentuk pengawasan terhadap kemasan pangan. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ada beberapa kiat sederhana bagi konsumen dalam menggunakan kemasan pangan yang aman.
  1. Pertama, jangan menggunakan kantong plastik kresek hitam untuk mengemas makanan. 
  2. Kedua, kurangi penggunaan kemasan pangan yang terbuat dari plastik untuk pangan berminyak atau berlemak. 
  3. Ketiga, jangan gunakan kemasan plastik dalam microwave kecuali sesuai anjuran, dan keempat jangan gunakan kemasan pangan yang rusak atau berubah bentuk.
Selain itu, ada juga sejumlah tips memilih kemasan pangan. 
  1. Pertama, utamakan menggunakan kemasan yang terbuat dari kaca atau keramik. 
  2. Kedua, pilih kemasan yang mencantumkan logo tara pangan dan kode daur ulang, 
  3. Ketiga pilih kemasan yang warnanya tidak mencolok. 
  4. Keempat, ikuti petunjuk pemakain yang disarankan produsen, 
  5. Kelima jangan terkecoh dengan harga yang murah. 
  6. Keenam, hindari penggunaan plastik untuk merebus, dan jangan menggunakan botol susu untuk sterilisasi.

Yuk lebih peduli dengan alat-alat rumah tangga yang digunakan sebagai kemasan pangan itu sendiri. Sebaiknya jangan merebus botol susu anak untuk alasan sterilisasi, cukup dengan menyiramnya saja dengan air panas. Selain itu, jangan gunakan sikat kawat untuk menyikat botol agar tidak merusak lapisan kemasan botol. Ia menjelaskan, ada beberapa cara perpindahan (migrasi) zat dalam kemasan yang berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap makanan. Migrasi tersebut di antaranya adalah permeasi atau perpindahan molekul gas dan cairan berlangsung dua arah, dan sorpsi atau perpindahan komponen pangan ke dalam makanan.

©[FHI]

Follow us: @forum_hijau

Join us : Forum Hijau Ponorogo

www.forumhijau.com

Jumat, 16 November 2012

Pendaki, bebaskan gunungmu dari sampah !!!!

Repost dari Forum Hijau Indonesia

PENDAKI, Bebaskan Gunungmu dari Sampah!

Mengapa sejumlah gunung populer di negeri ini penuh sampah? Jawabnya simple, banyak Pendaki "Pecinta alam" yang ‘buta’, tak peduli konservasi. Enggan membawa turun cuma bungkus permen, snack, mie instan, dan kaleng/botol plastik minumnya sendiri.*fhi Seenaknya menjadikan gunung tempat sampah raksasa tertinggi. Terlalu!

Detik ini berpartisipasilah bebaska...
n gunung dari sampah.

Tugas menghapus kebiasaan menjadikan gunung sebagai tempat sampah tertinggi di negeri ini atau di daerah sendiri, bukanlah petugas kebersihan atau pengelola Taman Nasional, melainkan kita sendiri selaku pendaki.*fhi Tak sulit kok, ikuti saja beberapa langkah membebaskan gunung dari sampah di bawah ini:

•Meminimalis Logistik Plastik

Sampai saat ini memang belum ada larangan membawa logistik berbungkus plastik, kaleng, dan lainnya saat mendaki gunung. Tapi bukan berarti seenaknya membawa bahan-bahan yang sulit lebur dengan tanah itu sebanyak mungkin.

Alangkah bijaknya mengurangi jumlah logistik yang mencemarkan alam itu dengan logistik ramah lingkungan.*fhi

-Contoh pada hari pertama pendakian bila berangkat pagi setelah sarapan, bawalah bekal untuk makan siang dan malam dengan nasi timbel atau lontong berbungkus daun pisang ditambah menu sesuai selera yang tidak cepat basi.*fhi

Cara ini bukan cuma ramah lingkungan, pun lebih efisien karena tinggal memasak air untuk membuat minuman penghangat.

-Bila membawa mie instan dalam jumlah besar, sebaiknya bungkusnya tidak perlu dibawa mendaki, kecuali bungkus bumbunya. Isinya disatukan dalam satu kantong plastik berikut bumbunya.

-Lebih baik membawa minuman kotak dibanding kaleng, karena sampah minuman kotak lebih mudah lebur dan ringan dibanding kaleng. Tapi tetap saja kotak dan sedotannya harus dibawa turun. Kurangi membawa minuman air mineral dan lainnya dalam kemasan botol plastik dengan cara membawa wadah air yang praktis dan dapat dipakai/diisi berulang-ulang.

•Turunkan Sampah Sendiri

Biasakan dalam setiap pendakian menyediakan wadah khusus untuk menurunkan sampah sendiri dan kelompok mulai dari yang kecil seperti bungkus permen, bekas pembalut (bagi cewek) sampai yang paling besar seperti bivak atau ponco yang robek.*fhi

Wadah khusus sampah kelompok harus kuat agar ketika dibawa turun, sampahnya tidak tumpah atau tercecer.

•Gunakan Tenaga Bantuan

Bila keberatan menurunkan sampah sendiri ataupun kelompok, gunakan tenaga bantuan khusus untuk menurunkannya. Misalkan porter khusus mengangkat logistik dan menurunkan semua sampahnya. Tentu butuh biaya tambahan untuk itu.*fhi

•Briefing Sadar Konservasi

Pimpinan pendakian kelompok kecil maupun massal yang diorganisir oleh organisasi pecinta alam maupun komunitas, harus memberikan briefing sadar konservasi kepada seluruh pesertanya. Dan mewajibkan setiap peserta menjaga kelestarian gunung, minimal dengan menurunkan sampah sendiri.

•Tidak Buang Sisa Makanan di Mata Air dan Alirannya

Sisa makanan seperti nasi, mie, dan lainnya sebaiknya dipendam dengan tanah jauh dari sumber air. Jangan didiamkan begitu saja. Jangan mencuci perlengkapan masak di mata air apalagi buang air besar dan kecil. Ambil air di sumbernya lalu cucilah perlengkapan masak di tempat yang agak jauh, begitu juga bila berak dan kencing.

•Tidak Bakar Sampah di Gunung

Selain merusak dan meninggalkan bekas yang tak sedap dipandang mata, membakar sampah di gunung juga rawan kebakaran hutan. Ini sudah kerap terjadi di beberapa gunung. Jangan pula sembarang membuang putung rokok di semak belukar terlebih pada musim kemarau. Jalan terbaik, bawa turun sampah sekecil apapun.

•Tidak Bertindak Vandalism

Cukup tinggalkan jejak langkah, bukan coret-coretan di batu, kayu, maupun di pos/shelter pendakian. Cukup ambil/rekam gambar, bukan ambil fauna dan flora milik hutan gunung.*fhi Tak perlu menuliskan nama dan kelompok di gunung hanya untuk sekadar membuktikan kalau sudah sampai di puncak tertinggi. Coretan hasil vandalism yang bukan pada tempatnya itu sungguh merusak pemandangan.

•Mengecek Logistik Pendaki

Biasakan setiap pendaki membuat list logistik pendakiannya. Sedangkan pengelola gunung dalam hal ini petugas taman nasional harus mengecek list tersebut di kantor ataupun basecamp titik awal pendakian, dan mewajibkan setiap pendaki menurunkan sampah dari logistiknya.

•Patuhi Aturan dan Sanksi Tegas

Senantiasa mengindahkan aturan yang berlaku. Pengelola gunung harus memberi sanksi tegas kepada pendaki perorangan maupun kelompok yang terbukti tidak menurunkan sampahnya sesuai list logistiknya ataupun melakukan tindak vandalism. Sanksinya bukan cuma larangan mendaki lagi ke gunung tersebut dan gunung lainnya selama periode tertentu, tapi juga membayar denda berupa uang untuk biaya operasional pengangkutan sampah tersebut.*fhi

•Tebus 'Dosa' dengan Aksi Bersih Gunung(bukan kedok)

Bila sebelumnya pernah melakukan dosa membuang sampah di gunung sekecil apapun itu, tebuslah dengan melakukan aksi bersih gunung saat mendaki gunung itu lagi. Bagi komunitas pendaki baik komersil maupun non profit, sebisa mungkin melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian massalnya. Jangan hanya jadi ajang pelampiasan ambisi pribadi ataupun usaha menarik keuntungan semata.

Alangkah bagusnya diiringi dengan kegiatan bernilai konservasi minimal bersih gunung atau melakukan reboisasi dan lainnya.

•Sebarluaskan Aksi Green Climbing

Pemahaman tentang green climbing mountain harus disebarluaskan kepada pendaki pemula maupun kelompok pecinta alam baru lewat milis, jejaring sosial, diskusi, pendidikan dasar kepecintaalaman di sekolah, kampus, dan lainnya. Tanamkan kesadaran bahwa hutan, gunung, dan isinya adalah harta tak ternilai, investasi masa depan untuk kehidupan generasi berikutnya.*fhi

Bila beberapa langkah di atas diindahkan setiap pendaki, terutama step 2, rasanya gunung-gunung populer sekalipun padat pendakinya, bisa terbebas sampah.

Berprospek Cerah

Perlu diketahui, gunung-gunung di negeri ini pun menjadi tujuan obyek wisata petualangan yang berprospek cerah karena kian diminati pendaki mancanegara. Bila dikelola dengan baik, ke depan obyek ini berpeluang menjaring pendaki mancanegara dalam jumlah yang lebih besar.@[204876742936764:]

Bila semua gunung populer kita bersih, asri, dan lestari, pasti pendaki asing akan senang dan puas, lalu memberikan citra positif dan menceritakan ke rekannya sesama pendaki.

Sebaliknya bila kotor, bisa jadi bumerang. Mereka akan menginformasikan betapa joroknya prilaku segelintir pendaki kita hingga mungkin bisa membuat mereka enggan mendaki lagi atau pendaki asing lainnya pun mengurungkan niatnya mendaki.

Ingatlah prilaku jorok kita di gunung, dapat merusak imej seluruh pendaki di mata dunia. Nah, detik ini juga lakukanlah Green Adventuring, Green Mountaineering dalam setiap petualangan dan pendakian.

Salam Rimba Lestari!

©[Repost Doc (23/07/12/Rhaka Yoga-FHI]

¦-->> Copas hargai Kredit Penulis, thank's XD <<--¦

Follow us: @forum_hijau


Sawit Musuh Bersama !!!!!

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

SAWIT MUSUH BERSAMA!

Indonesia kini berada di masa-masa paling penting dalam sejarah energi dunia! Di saat krisis energi diramalkan akan terjadi 30 tahun ke depan karena habisnya minyak bumi, Indonesia masih bisa tenang-tenang saja karena kita memiliki Kartu As energi terbarukan di dunia. Apa kartu as tersebut? Kelapa Sawit. Tapi benarkah ramah lingkungan?

1. CPO = Cruel Palm Oil
kelapa-sawit a...
ktivis lingkungan banyak memelesetkan kepanjangan CPO yang harusnya Crude Palm Oil menjadi Cruel Palm Oil.

Mengapa tanaman ini sangat dimusuhi oleh para aktivis lingkungan hidup dan dijuluki “tanaman bengis”? Salah satu alasan utama yang tidak diketahui orang banyak adalah fakta bahwa sawit sangat rakus air. Sawit menyedot air dalam jumlah yang sangat besar hingga ke dalam tanah. Ketika 1 wilayah sudah dijadikan perkebunan sawit, maka wilayah tersebut sangat sulit untuk ditanami kembali oleh tanaman lain.

Tanah yang sudah ditanami oleh kelapa sawit menjadi kehilangan unsur hara sehingga ekosistem di sekitarnya menjadi rusak dan tak seimbang lagi. Selain hal ini, timbul banyak masalah turunan lain dari komoditas nomor 1 di Indonesia ini.

2. Kerusakan Hutan Indonesia 28 Juta Hektar, Seluas Negara Filipina!

Miris rasanya ketika 5 tahun lalu, tahun 2007, kita melihat iklan layanan masyarakat mengenai kerusakan hutan di Indonesia namun sampai sekarang tidak banyak yang peduli.

Dalam iklan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan tersebut disebutkan bahwa laju perusakan hutan Indonesia adalah 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam satu jam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak. Padahal hutan ini tidak bisa dibuat lagi oleh manusia karena merupakan proses alam yang terjadi selama ratusan tahun.

Perambahan hutan yang tak terkendali untuk perkebunan sawit dituding sebagai penyebab nomor satu deforestasi. Pemerintah daerah dengan gampangnya memberikan konsesi sawit ke para pengusaha. Akibatnya deforestasi Indonesia tidak terbendung lagi.

Padahal di sisi lain, luas hutan Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah hutan di Amerika Selatan. Kondisinya saat ini adalah rata-rata laju deforestasi hutan di Indonesia dari tahun 1990 sampai 2010 mencapai 1,2 juta hektar per tahun.

Perkebunan sawit tidak pantas disebut hutan.

Biar bagaimana pun ekosistem yang heterogen tidak mungkin bisa digantikan dengan ekosistem yang homogen. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kerugian negara akibat kerusakan hutan mencapai Rp 180 triliun. Apakah 180 triliun ini sebanding dengan ekspor sawit kita?

Tentu tidak. Uang bisa dicari namun hutan yang hilang serta satwa yang punah tidak mungkin bisa dikembalikan lagi. Sesal kemudian tidak berguna.

Bank Dunia sendiri sangat serius menanggapi isu deforestasi Indonesia. Bank Dunia sempat menghentikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit pada September 2009 akibat perusakan lingkungan yang sangat parah di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Teman-teman kami di Greenpeace dan World Wildlife Foundation (WWF) juga ikut menyerang industri kelapa sawit dengan menyebut “Palm oil: enemy number one of Indonesia’s tropical rainforests”.

3. Orang Utan Dianggap Hama Sawit
Selamat datang perkebunan sawit, selamat tinggal orang utan! Itulah harga yang harus dibayar untuk industri sawit ini. Perluasan lahan sawit mau tidak mau merusak habitat orang utan, beruang dan harimau. Tidak tanggung-tanggung, orang utan bisa tiba-tiba masuk ke rumah penduduk untuk mencuri nasi. Hal ini mereka lakukan karena memang sudah tidak ada makanan lagi karena hutan mereka sudah dirusak.

Gajah, Beruang dan harimau juga sudah kehilanggan tempat tinggalnya, akhirnya penduduk sipil merasa jiwanya terancam dari hari ke hari. Orang utan pun dibantai secara keji atas perintah para pengusaha sawit. Satu ekor orang utan dihargai 500 ribu sampai 1 juta rupiah oleh pengusaha sawit.

Padahal tidak ada maksud orang utan dan satwa liar lainnya mengganggu perkebunan sawit serta rumah penduduk. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak memiliki pilihan lain.

Manusia telah menjadi monster bagi alam, tahun 2011 saja Washington Post mencatat 750 orang utan terbunuh di Kalimantan. Padahal orang utan adalah satwa endemik Indonesia dan satu-satunya habitat asli mereka adalah Indonesia.

4. 50% Lahan Sawit Indonesia Dikuasai Asing
Untuk siapakah sawit Indonesia? Walhi mencatat bahwa saat ini 50% lahan sawit Indonesia telah dikuasai asing dengan Malaysia sebagai pemiliki mayoritas, sebesar 26%.

Konglomerasi Malaysia, Sime Darby (perusahaan sawit terbesar di dunia), sampai saat ini sudah mengantongi konsesi sawit sekitar 300.000 hektar melalui Minamas Plantation. Dengan dukungan modal yang kuat serta teknologi yang lebih canggih akibatnya banyak perusahaan sawit Indonesia yang tidak bisa bersaing.
Bukankah ini sangat tragis?

Tanah Indonesia hanya dijadikan sapi perahan dan disedot habis-habisan air tanahnya demi perkebunan sawit.

5. Kasus Mesuji - Pembantaian 30 Warga oleh Perusahaan Sawit
Pantaslah jika bisnis sawit disebut sebagai bisnis paling kontroversial di Indonesia. Inilah satu- satunya bisnis di Indonesia yang dibangun di atas tangisan, darah dan air mata rakyat kecil!

Tidak hanya orang utan yang dibantai demi bisnis sawit, tapi juga termasuk manusia! Pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung tega dilakukan oleh PT Silva Inhutani, milik warga negara Malaysia bernama Benny Sutanto alias Abeng, demi melakukan perluasan lahan sawit.

Penduduk setempat yang tadinya menanam sengon dan albasia menolak keras ekspansi lahan perusahaan ini. Akhirnya PT Silva Inhutani membentuk PAM Swakarsa yang juga dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk.
Pasca adanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011. Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat.

Kesadisan yang dilakukan atas nama bisnis sawit ini mengingatkan kita kembali pada film G30S/PKI. Ironisnya, aparat kepolisian kita yang seharusnya bisa melindungi dan mengayomi kepentingan masyarakat sipil justru mau menjadi kaki tangan pengusaha Malaysia.

6. Hengkangnya GAPKI dari RSPO
Roundtable on Suistanable Palm Oil (RSPO) sangat menyayangkan langkah Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) yang keluar dari keanggotaan RSPO pada 22 September 2011 lalu.

RSPO adalah sebuah organisasi internasional yang memberikan sertifikasi pada komoditas CPO. Sertifikasi RSPO pada CPO inilah yang menyatakan bahwa komoditas CPO tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan bagi lingkungan hidup.

Dari hengkangnya GAPKI ini kita bisa melihat bahwa para pengusaha sawit Indonesia ingin menang sendiri dan tidak mau tunduk pada sertifikasi internasional yang mendunia. Di sisi lain, Malaysia sebagai penghasil sawit terbesar kedua di dunia terlihat lebih arif dengan tetap mempertahankan keanggotaannya di RSPO. Keluarnya GAPKI dari RSPO ini pula yang menjadi salah satu penyebab Amerika Serikat menolak sawit Indonesia dengan alasan tidak ramah lingkungan.

Selain AS, selama ini Uni Eropa juga mempersyaratkan standar RSPO pada ekspor kelapa sawit ke kawasan itu.
Jadi ada kemungkinan juga ke depannya negara-negara lain akan ikut menolak sawit Indonesia dan lebih memilih sawit Malaysia yang sudah memiliki sertifikasi internasional dari RSPO.

7. Tidak Ramah Lingkungan
Environmental Protection Agency, otoritas AS yang perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup. Penolakan AS ini tentu membuat daya saing kelapa sawit Indonesia melemah. Oleh karena itu, wajar jika Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, turut berang.

Namun menyalahkan dan mengkambinghitamkan AS atas boikot ini adalah tindakan yang tidak tepat. Janganlah buruk rupa cermin dibelah.

Seharusnya fokus utama pemerintah bukanlah membuka lahan sawit baru. Ketegasan pemerintah dalam penerapan regulasi ada tentunya akan mampu menjaga kelestarian hayati.

©[Repost Doc (07/07/12) FHI/Berbagai sumber]

Follow us: @forum_hijau


Menggunakan Komputer yang Ramah Lingkungan

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

Menggunakan Komputer yang Ramah Lingkungan

Bagaimana menggunakan komputer dengan ramah lingkungan atau setidaknya untuk menghemat energi listrik?

1. Matikan komputer sobat greener di malam hari sehingga komputer hanya digunakan selama 8 jam – untuk menghemat penggunaan energi hingga 810kWh per tahun dan 67 persen penggunaan.*fhi

2. Sambungkan komputer sobat greener ke surge protector dengan mas...
ter control outlet, sehingga secara otomatis dapat mengetahui saat komputer tidak digunakan untuk kemudian memutus sambungan listrik ke komputer dan perlengkapannya.*fhi

3. Belilah layar datar – karena layar datar menggunakan lebih sedikit energi dan tidak membuat mata bekerja lebih keras seperti pada CRT.

4. Belilah komputer yang dilengkapi Energy Star. Sebagai catatan, laptop menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan desktop.

5. Rencanakan penggunaan komputer sehingga semua kegiatan dapat diselesaikan dalam satu waktu, dan matikan saat tidak agi digunakan.

6. Pertimbangkan menggunakan monitor yang lebih kecil – monitor berukuran 14 inci menggunakan 40 persen energi lebih rendah dibandingkan dengan monitor 17 inci.

7. Lupakan screen saver - screen saver tidak menghemat energi kecuali masih menggunakan monitor monochrome yang lama.

8. Lihat ulang rancangan dokumen dan email pada layar dari pada mencetaknya.

9. Pertimbangkan untuk menggunakan printer ink-jet – walaupun lebih lambat dari pada menggunakan printer laser, tapi inkjet menggunakan 80-90 persen energi lebih sedikit.

10. Belilah produk tinta yang berbahan dasar dari tumbuhan atau non-minyak – karena produk tersebut dibuat dari sumber yang didaur ulang, membutuhkan lebih sedikit penggunaan materi berbahaya dan menghasilkan warna yang lebih terang dan jernih.

11. Matikan printer sobat greener dan semua perangkat pelengkap lainnya apabila tidak digunakan.

12. Jangan biarkan komputer sobat greener tetap menyala pada malam hari atau pada akhir minggu.

13. Pilihlah warna yang gelap sebagai latar belakang tampilan layar, karena tampilan warna terang menggunakan lebih banyak energi.

14. Kurangi tingkat pencahayaan ruangan pada saat bekerja menggunakan komputer.

15. Gunakan jaringan dan share printer apabila memungkinkan.

16. Cetaklah dengan menggunakan kertas daur ulang. Gunakan kertas yang tidak menggunakan klorin dengan 50 hingga 100 persen post-consumer waste.

17. Cetak di dua sisi kertas.

18. Komunikasi melalui email sebagai alternatif pengganti memo dan fax.

©[Repost Doc (16/10/12) -FHI]

Follow us: @forum_hijau


Bahaya Tidur Dengan Peralatan Listrik Menyala


Bahaya Tidur Dengan Peralatan Elektrik Menyala

Beberapa diantara kita punya kebiasaan tidur sambil nyalakan TV, Laptop, dan atau pakai headset. Tahukah Sobat greener, bahwa kebiasaan itu sangat berbahaya?

Tidur merupakan kebutuhan alami manusia.
Dengan tidur yang berkualitas, metabolisme tubuh ditata kembali. Kita juga memiliki kesempatan untuk melakukan regenerasi mengganti sel-sel tubuh yang ...
mati.*fhi

Nah tahukah Kamu, bagaimana cara mendapatkan tidur yang baik dan berkualitas?

Salah satu caranya adalah dengan memadamkan lampu di waktu tidur normal (9 malam hingga 8 pagi) demi mendapatkan hormon melatonin secara maksimal.*fhi

Hormon Melatonin Adalah zat yang dihasilkan oleh kelenjar
pineal didalam otak yang pembentukannya dipicu oleh gelap dan berfungsi mengatur bioritme atau irama tubuh dalam hal
pengaturan tidur. Kadarnya paling tinggi ditemukan menjelang pagi hari sekitar jam 02.00 – 04.00 dan paling rendah di sore hari.*fhi Ini juga menjawab kenapa orang semakin bertambah usia semakin sedikit tidurnya, karena secara alamiah, produksi hormonmelatonin ini juga akan mengalami penurunan,sejalan dengan pertambahan usia manusia. @[204876742936764:]

Penurunan yang drastis biasanya terjadi sekitarusia 40 tahun
sehingga dengan menurunnya hormon ini maka kualitas tidurpun akan menurun dan sering berefek pada kesulitan tidur.*fhi

Manfaat lain melatonin adalah sebagai anti oksidan yang larut dalam lemak dan air, meningkatkan imun tubuh menimbulkan relaksasi otot dan membantu meningkatkan
mood dan menghilangkan ketegangan.

Jadi sebaiknya kalau tidur lampu dimatikan agar bisa memaksimalkan produksi melatonin. Memang, ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman, atau bahkan tidak dapat tidur pada kondisi gelap. Namun jika melihat manfaat atau dampaknya, hal ini perlu diperhatikan juga.

Antara lain dengan tidak tidur di bawah pencahayaan langsung (dari lampu kamar), terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Matikan Televisi dan Musik
Kebiasaan tidur sambil mendengarkan musik, ataumenonton televisi sampai tertidur, ataumembiarkan lampu di ruangan
menyala terang,memang sulit dihilangkan dan menurut sebagianorang kondisi seperti itu membuat mereka menjadi lebih cepat tertidur.*fhi Tetapi pada kenyataannya setelah
terbangun mereka merasa lebih tegang (stress) Bahkan ada yang merasa seperti tidak tidur semalaman.

Penjelasannya :
Pada saat kita tidur sebetulnya otak tidak pernah tidur. Otak selalu menjalankan aktivitasnya walaupun tidak sesibuk seperti di saat bangun,yaitu menjalankan sistem metabolisme tubuh.

Pada malam hari, seiring menurunnya aktivitas tubuh, ritme gelombang otak pun mengalamipenurunan. Namun apabila kita tidur sambilmendengarkan musik, televisi dalam keadaanhidup atau lampu ruangan sedang menyala terang,maka gelombang suara atau cahaya yangdipancarkan oleh
peralatan tersebut tetap diterima oleh indera pendengaran dan penglihatan Sobat greener.

Gelombang suara diterima oleh alat pendengaran di dalam telinga dan gelombang cahaya tetap dapat menembus kelopak mata dan diterima oleh retina dan lensa mata.

Gelombang-gelombang tersebutakan diteruskan ke otak kita. Otak yang harusnya beristirahat akan kembali terangsang untuk bekerjadan mengolah informasi yang masuk.

Apabila hal ini berlangsung sepanjang malam,berarti kita hanya tidur menurut tubuh luar, tetapi tidak menurut otak. Otak akan terus bekerja mengolah informasi yang masuk tersebut.

Jadi jangan biarkan otak sobat greener kelelahan karena harus tetap bekerja pada malam hari, sedangkan di siang hari otak juga akan diperas oleh kegiatan rutin kita.

Dan tentu, selain berdampak positif bagi kesehatan. Kamu juga turut andil dalam menghemat energi dan menjadi pahlawan bagi Ibu Bumi!

©[Repost Doc (06/05/12) FHI]

Follow Us: @forum_hijau

Wujudkan Pembangunan Kota Hijau

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

Wujudkan Pembangunan Kota Hijau

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang berupaya terus mendorong pemerintah daerah mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui program tematik implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berupa Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP).

"Prakarsa perwujudan Kota Hijau melalui pr...
ogram ini merupakan tahapan yang lebih maju dalam siklus pelaksanaan penataan ruang, yang tidak berhenti pada tataran perencanaan, namun telah bergulir pada tataran implementasi rencana. Kami ingin mendorong masing-masing kota melakukan ini," ujar Menteri PU Djoko Kirmanto dalam sambutan pembuka kegiatan Sarasehan dan Penandatangan Kesepakatan Perwujudan Kota Hijau dan Kota Pusaka.

Tahun ini, bertepatan dengan peringatan Hari Tata Ruang (Haritaru) dunia yang jatuh pada 8 November, Kementerian PU berupaya menyebarkan awareness terhadap kepedulian tata ruang. Untuk itu, Kementerian PU juga menjalin kerjasama dengan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia untuk menyiapkan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP).

"Ini merupakan program tematik dalam rangka implementasi RTRW melalui upaya penataan dan pelestarian kekayaan aset sosial dan budaya kota," ujarnya.

Djoko berharap, melalui program ini pemerintah akan mendorong masing-masing kota berwarisan budaya untuk menyusun Rencana Manajemen Kota Pusaka serta mendorong pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan Kota Pusaka. Dengan demikian, pada saatnya nanti kota-kota tersebut dapat mewujudkan RTRW yang berwawasan budaya dan berkarakter.

"Yang dalam jangka panjangnya nanti diakui oleh UNESCO menjadi salah satu World Heritage City," katanya.
Sementara itu, Deputi V Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Luky Eko Wuryanto, yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus sebagai Ketua BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional), momentum Haritaru dapat menjadi salah satu instrumen kampanye publik tentang pentingnya penataan ruang sebagai basis legal kebijakan spasial pembangunan kota dan wilayah.

"Dalam kaitan ini, peran BKPRN menjadi sangat signifikan karena diharapkan dapat menjadi lokomotif reformasi penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia," ujar Luky.

Dalam pelaksanaannya, Haritaru menjadi salah satu bentuk upaya mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pembangunan perkotaan yang ramah lingkungan serta perwujudan ruang yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan sesuai amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dukungan pun datang dari berbagai pihak terkait, antara lain Forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), pemerintah daerah, komunitas-komunitas pecinta lingkungan, Sustainable Urban Development Forum Indonesia (SUD-FI) dan pengkaji pembangunan perkotaan serta dunia usaha dalam upaya bersama merespon permasalahan kota yang semakin komplek.

"Tantangan perubahan iklim khususnya di kota-kota metropolitan dan kota besar yang menghadapi tantangan besar degradasi kualitas lingkungan," ujarnya.


Indonesia Gaungkan Konsep Karbon Biru (Blue Carbon)

Repost dari Forum Hijau Indonesia

INDONESIA GAUNGKAN KONSEP KARBON BIRU (BLUE CARBON)
Para peneliti di Indonesia terus menggaungkan konsep karbon biru (blue carbon) sebagai salah satu kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon di dunia. "Konsep karbon biru pertama kali diluncurkan sekitar Febuari 2010 pada saat pertemuan the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum di Bali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Fadel Muhammad) dan Direktur UNEP Achim Steiner," kata Andreas A. Hutahaean, PhD, salah seorang peneliti dari Badan Litbang Kelautan dan Perikanan yang terlibat dalam tim Blue Carbon Indonesia, di Jakarta.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, konsep karbon biru adalah salah satu solusi yang menjanjikan bagi upaya menekan laju perubahan iklim dan mengurangi timbunan CO2 di atmosfer. Karbon biru, secara prinsip, merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida di Bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput laut, dan ekosistem pesisir. Vegetasi pesisir diyakini oleh kalangan peneliti dapat menyimpan karbon 100 kali lebih cepat dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan.

"Selain itu, peran vegetasi pesisir memiliki keuntungan yang berganda. Bisa untuk tempat pengembangbiakan ikan, untuk menjaga erosi air laut, dan pariwisata bahari," ujar Andreas. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk penelitian karbon biru, "Kami sudah mencoba menerapkannya sejak 2010 melalui pilot project Blue Carbon di Teluk Banten dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur."

Dari penelitian Blue Carbon yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), padang lamun memiliki potensi menyerap dan menyimpan karbon sekitar 4,88 ton/Ha/tahun. Total ekosistem padang lamun di Indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon /tahun.

Untuk ekosistem mangrove, rata-rata penyerapan dan penyimpanan karbon sebesar 38,80 ton/Ha/ tahun. Jika di hitung secara total maka potensi penyerapan karbon ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton/tahun. Di samping kedua ekosistem tersebut, rumput laut merupakan komoditas ekonomi penting Indonesia yang berperan penting menyerap emisi karbon. Melalui proses fotosintesis, rumput laut menyerap antropogenik karbon yang berada di daerahnya.

Menurut data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, luas lahan budidaya rumput laut sekitar 1,11 juta Ha dengan jumlah produksi tahun 2011 sebesar 4,31 juta ton. Maka dengan rasio perbandingan rata-rata biomassa:karbon = 3:1, potensi penyerapan karbon oleh rumput laut adalah sebesar 1,44 juta ton karbon pada 2011.

©[FHI/Antara]

Follow us: @forum_hijau