Sabtu, 13 Oktober 2012

Merencanakan Suatu Eksperimen dalam Teknik Kontrol Lingkungan

Dalam merencanakan suatu eksperimen hal yang pertama kali harus dilakukan adalah mendefinisikan  masalah apa yang menjadi problem dari suatu kejadian atau yang menjadi problem dalam lingkungan. Dalam mendefinisikan masalah terdapat tiga tahapan yaitu melakukan analisis eror, melakukan statistik desain dan membuat suatu replika. Setelah ketiga tahap dalam mendefinisikan masalah telah dilakukan, hal yang selanjutnya dilakukan adalah memilih instrumen atau alat yang cocok digunakan untuk rencana yang telah dibuat. Ada beberapa tahap pula dalam memilih insttrumen, yang pertama adalah memilih elemen utama dalam sensing atau pendeteksian, yang kedua memasangkan alat tersebut dengan peralatan lain yang mendukung, yang ketiga memilih alat untuk output, dan yang terakhir melakukan kalibrasi.

Salah satu fase yang paling penting dalam semua pekerjaan eksperimen adalah pengertian apa yang harus dilakukan atau dalam artian mendefinisikan masalah apa yang terjadi dan langkah apa yang harus dilakukan. Ada beberapa metode yang mungkin digunakan dalam memverifikasi sebuah konsep atau pengertian. Yang paling banyak diketahui dan digunakan kebanyakan orang adalah metode scientific yang bersifat induktif. Sedangkan metode yang digunakan profesional biasanya berdasar pad sifa deduktif. Tahap yang paling penting dalam fase awal adalah untuk mengembangkan definisi konkrit atau definisi yang jelas dari masalah yang harus diselesaikan. Terdapat 3 faktor yang sangat membantu dalam mendatangkan definisi yang nantinya akan digunakan, yaitu tujuan, sumber daya dan lingkungan. Fase-fase dalam pendefinisian suatu masalah dapat dilihat dalam diagram di bawah ini.

Dalam percobaan atau penelitian, kesalahan atau eror dalam pengukuran dan pengamatan biasanya terjadi dalam pengambilan data. Kesalahan atau eror biasanya diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kesalahan acak dan kesalahan sistematis. Kesalahan sistematis biasanya terkait dengan ketidaksempurnaan dan ketidaksesuaian alat atau konndisi eksperimen lainnya yang berpengaruh pada ketepatan dari pengukuran. Ketepatan atau akurasi adalah seberapa dekat pengukuran yang dilakukan dengan hasil yang sebenarnya. Selain itu kesalahan sistematis juga terkait dengan teknik dan cara yang dilakukan dalam eksperimen. Apakan teknik atau cara pengambilan data sudah sesuai prosedur atau belum. Kecereobohan dalam membaca alat, mencatat data dan mengabaikan prosedur spesifik dapat menyebabkan variabilitas meningkat dan menurunkan ketelitian dari pengukuran. Ketelitian adalah seberapa dekat hasil dari pengukuran satu dengan pengukuran lainnya.
Kesalahan acak biasanya terkait dengan variabilitas alami dimana peneliti tidak bisa mengontrolnya. Hal itu terjadi karena variasi alami diantara satuan yang diukur, fluktuasi dalam lingkungan dan ketidakmampuan meniru perlakuan kondisi yang sebenarnya. Dalam studi yang dilakukan, kesalahan acak ini biasanya kecil dan diasumsikan tidak tergantung dan tidak terdistribusi dengan normal. Teori staistika terkait dengan pengambilan keputusan menggunakan analisis kesalahan dengan kesalahan eksperimen acak.




Selasa, 09 Oktober 2012

Industri di Tangan Konsumen, Lingkungan di Tangan Konsumen



Oleh Cindhy Ade Hapsari (F44100008)

Industri sekarang tak bisa semena-mena lagi terhadap lingkungan. Buang limbah di sungai sana, buang limbah di sungai sini tak segampang seperti dahulu ketika masyarakat belum paham dan mengerti tentang kerusakan lingkungan, terutama kerusakan yang ditimbulkan oleh industri karena limbah yang mereka buang. Semakin rusak lingkungan semakin banyak masyarakat sadar, semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan. Tumbuh beratus-ratus LSM yang mengurusi bidang lingkungan ini. Semua berteriak sama, “Selamatkan Bumi Kita”, “Selamatkan Lingkungan Kita”, dan kata-kata lainnya yang serupa. Tak hanya berteriak saja, aksipun dilakukan. Boikot sana, boikot sini dengan mengumpulkan massa yang juga aware  terhadap lingkungan.
Bebarapa tahun silam sebuah pabrik coklat terkenal milik nestle juga terkena imbasnya. Masyarakat menuntut lingkungan mereka menjadi sehat kembali.  Coklat nestle yang bermerek Cailler adalah produk yang sempat dikecam habis-habisan oleh masyarakat pro lingkungan pada saat itu. Produk coklat dengan cita rasa tinggi dan dengan kemasan yang sangat cantik, dimana saat itu kemasannya dibuat transparan. Tapi sayangnya kemasan ini sangat tidak ramah lingkungan. Kemasan transparan ini sangat sulit untuk di daur ulang. Oleh karena itulah masyarakat pro lingkungan memboikot secara luas produk tersebut agar tidak dibeli oleh konsumen.
Sebenarnya industri itu ada karena adanya konsumen. Industri selalu mengikuti pasar. Ketika pasar menginginkan produk yang ramah lingkungan mau tidak mau industri akan mengikuti pasar tersebut Contohnya adalah kasus di atas, dimana pemboikotan akan suatu produk terjadi yang akhirnya membuat industri mau tak mau mengubah produknya. Jika setiap orang sadar dan mau menuntut produk-produk yang ramah lingkungan pada industri maka tak ayal lagi lingkungan juga akan semakin sehat karena limbah-limbah dari produksi hasil industri berkurang.
Namun saat ini masalahnya adalah tidak semua orang sadar dan peduli akan bahayanya produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Mungkin masyarakat pro lingkungan memang sudah banyak, namun masih ada pula masih ada pula masyarakat yang acuh dengan lingkungannya. Mengejar harga murah biasanya adalah alasannya, dan industri masih bercokol pada pasar yang mencari harga murah itu karena memang jumlahnya jauh lebih banyak daripada masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli produk yang lebih ramah lingkungan.
Sekarang tumbuhkan saja kesadaran yang kuat akan perlunya membuat lingkungan kita yang sedang sakit-sakitan ini menjadi sehat kembali. Semakin banyak orang yang sadar semakin lebar pula senyum bumi kita ini, semakin sehat pula lingkungan yang kita huni ini. Sekali lagi ingat, Industri itu di tangan pasar, di tangan konsumen. Oleh karena itu masa depan lingkungan juga ada di tangan konsumen.