Jumat, 16 November 2012

Materi dan Energi

Alam semesta terdiri dari materi dan energi . Materi merupakan bahan penyusun dari segala macam benda yang ada, sedangkan energi adalah penyebab dari segala perubahan yang terjadi pada materi.

Benda, materi dan zat
Benda, materi dan zat merupakan tiga istilah yang boleh dikatakan serupa tapi tak sama. Ketiganya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa. Namun begitu, ketepatan penggunaan dari ketiga istilah itu sedikit berbeda. Istilah benda kita gunakan untuk menyatakan objek fisik, misalnya pena, pensil, mobil, rumah dan lain-lain. Penyebutan akan menjadi kurang tepat jika mobil kita sebut sebagai materi atau zat. Setiap benda terdiri atas materi. Mobil sebagai contoh terdiri atas berbagai macam materi antara lain baja, karet, alumunium. Jadi, materi adalah bahan penyusun benda.
Materi ada yang berupa zat tunggal ada pula yang berupa campuran. Zat tunggal terdiri dari sejenis zat, sedangkan zat campuran terdiri dari bermacam-macam zat. Contoh zat tunggal yaitu air sedangkan contoh zat campuran adalah air laut, karena air laut terdiri dari campuran air dan garam.

Massa dan Berat
Setiap benda terdiri atas materi. Massa berkaitan dengan jumlah materi yang menyusun benda. Berat adalah ukuran besarnya gaya tarik gravitasi yang dialami oleh suatu benda. Jadi berat tergantung pada massa dan gravitasi. Berat adalah perkalian antara massa benda dan gaya gravitasi. Berat suatu benda dinyatakan dengan satuan kg.m/det^2 atau Newton (N).
Benda yang bermassa sama bisa jadi memiliki berat yang berbeda, jika diukur pada tempat yang gravitasinya berbeda. Berat benda di bulan hanya 1/6 dari beratnya di bum, karena gravitasi bulan hanya 1/6 dari gravitasi bumi. Jika berat benda di bumi adalah sebesar 20 kg, maka beratnya di bulan menjadi 120 kg.

Energi
Energi didefinisikan sebagai kemampuan melakukan kerja. Setiap materi mengandung energi. Nasi, gas alam, minyak bumi, kayu dan materi apa saja, mengandung energi. Ketika gas alam atau bahan bakar fosil atau minyak bumi terbakar, sebagian energinya dilepas dalam bentuk kalor. Energi kalor tersebut dapat kita manfaatkan untuk memasak.



Pendaki, bebaskan gunungmu dari sampah !!!!

Repost dari Forum Hijau Indonesia

PENDAKI, Bebaskan Gunungmu dari Sampah!

Mengapa sejumlah gunung populer di negeri ini penuh sampah? Jawabnya simple, banyak Pendaki "Pecinta alam" yang ‘buta’, tak peduli konservasi. Enggan membawa turun cuma bungkus permen, snack, mie instan, dan kaleng/botol plastik minumnya sendiri.*fhi Seenaknya menjadikan gunung tempat sampah raksasa tertinggi. Terlalu!

Detik ini berpartisipasilah bebaska...
n gunung dari sampah.

Tugas menghapus kebiasaan menjadikan gunung sebagai tempat sampah tertinggi di negeri ini atau di daerah sendiri, bukanlah petugas kebersihan atau pengelola Taman Nasional, melainkan kita sendiri selaku pendaki.*fhi Tak sulit kok, ikuti saja beberapa langkah membebaskan gunung dari sampah di bawah ini:

•Meminimalis Logistik Plastik

Sampai saat ini memang belum ada larangan membawa logistik berbungkus plastik, kaleng, dan lainnya saat mendaki gunung. Tapi bukan berarti seenaknya membawa bahan-bahan yang sulit lebur dengan tanah itu sebanyak mungkin.

Alangkah bijaknya mengurangi jumlah logistik yang mencemarkan alam itu dengan logistik ramah lingkungan.*fhi

-Contoh pada hari pertama pendakian bila berangkat pagi setelah sarapan, bawalah bekal untuk makan siang dan malam dengan nasi timbel atau lontong berbungkus daun pisang ditambah menu sesuai selera yang tidak cepat basi.*fhi

Cara ini bukan cuma ramah lingkungan, pun lebih efisien karena tinggal memasak air untuk membuat minuman penghangat.

-Bila membawa mie instan dalam jumlah besar, sebaiknya bungkusnya tidak perlu dibawa mendaki, kecuali bungkus bumbunya. Isinya disatukan dalam satu kantong plastik berikut bumbunya.

-Lebih baik membawa minuman kotak dibanding kaleng, karena sampah minuman kotak lebih mudah lebur dan ringan dibanding kaleng. Tapi tetap saja kotak dan sedotannya harus dibawa turun. Kurangi membawa minuman air mineral dan lainnya dalam kemasan botol plastik dengan cara membawa wadah air yang praktis dan dapat dipakai/diisi berulang-ulang.

•Turunkan Sampah Sendiri

Biasakan dalam setiap pendakian menyediakan wadah khusus untuk menurunkan sampah sendiri dan kelompok mulai dari yang kecil seperti bungkus permen, bekas pembalut (bagi cewek) sampai yang paling besar seperti bivak atau ponco yang robek.*fhi

Wadah khusus sampah kelompok harus kuat agar ketika dibawa turun, sampahnya tidak tumpah atau tercecer.

•Gunakan Tenaga Bantuan

Bila keberatan menurunkan sampah sendiri ataupun kelompok, gunakan tenaga bantuan khusus untuk menurunkannya. Misalkan porter khusus mengangkat logistik dan menurunkan semua sampahnya. Tentu butuh biaya tambahan untuk itu.*fhi

•Briefing Sadar Konservasi

Pimpinan pendakian kelompok kecil maupun massal yang diorganisir oleh organisasi pecinta alam maupun komunitas, harus memberikan briefing sadar konservasi kepada seluruh pesertanya. Dan mewajibkan setiap peserta menjaga kelestarian gunung, minimal dengan menurunkan sampah sendiri.

•Tidak Buang Sisa Makanan di Mata Air dan Alirannya

Sisa makanan seperti nasi, mie, dan lainnya sebaiknya dipendam dengan tanah jauh dari sumber air. Jangan didiamkan begitu saja. Jangan mencuci perlengkapan masak di mata air apalagi buang air besar dan kecil. Ambil air di sumbernya lalu cucilah perlengkapan masak di tempat yang agak jauh, begitu juga bila berak dan kencing.

•Tidak Bakar Sampah di Gunung

Selain merusak dan meninggalkan bekas yang tak sedap dipandang mata, membakar sampah di gunung juga rawan kebakaran hutan. Ini sudah kerap terjadi di beberapa gunung. Jangan pula sembarang membuang putung rokok di semak belukar terlebih pada musim kemarau. Jalan terbaik, bawa turun sampah sekecil apapun.

•Tidak Bertindak Vandalism

Cukup tinggalkan jejak langkah, bukan coret-coretan di batu, kayu, maupun di pos/shelter pendakian. Cukup ambil/rekam gambar, bukan ambil fauna dan flora milik hutan gunung.*fhi Tak perlu menuliskan nama dan kelompok di gunung hanya untuk sekadar membuktikan kalau sudah sampai di puncak tertinggi. Coretan hasil vandalism yang bukan pada tempatnya itu sungguh merusak pemandangan.

•Mengecek Logistik Pendaki

Biasakan setiap pendaki membuat list logistik pendakiannya. Sedangkan pengelola gunung dalam hal ini petugas taman nasional harus mengecek list tersebut di kantor ataupun basecamp titik awal pendakian, dan mewajibkan setiap pendaki menurunkan sampah dari logistiknya.

•Patuhi Aturan dan Sanksi Tegas

Senantiasa mengindahkan aturan yang berlaku. Pengelola gunung harus memberi sanksi tegas kepada pendaki perorangan maupun kelompok yang terbukti tidak menurunkan sampahnya sesuai list logistiknya ataupun melakukan tindak vandalism. Sanksinya bukan cuma larangan mendaki lagi ke gunung tersebut dan gunung lainnya selama periode tertentu, tapi juga membayar denda berupa uang untuk biaya operasional pengangkutan sampah tersebut.*fhi

•Tebus 'Dosa' dengan Aksi Bersih Gunung(bukan kedok)

Bila sebelumnya pernah melakukan dosa membuang sampah di gunung sekecil apapun itu, tebuslah dengan melakukan aksi bersih gunung saat mendaki gunung itu lagi. Bagi komunitas pendaki baik komersil maupun non profit, sebisa mungkin melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian massalnya. Jangan hanya jadi ajang pelampiasan ambisi pribadi ataupun usaha menarik keuntungan semata.

Alangkah bagusnya diiringi dengan kegiatan bernilai konservasi minimal bersih gunung atau melakukan reboisasi dan lainnya.

•Sebarluaskan Aksi Green Climbing

Pemahaman tentang green climbing mountain harus disebarluaskan kepada pendaki pemula maupun kelompok pecinta alam baru lewat milis, jejaring sosial, diskusi, pendidikan dasar kepecintaalaman di sekolah, kampus, dan lainnya. Tanamkan kesadaran bahwa hutan, gunung, dan isinya adalah harta tak ternilai, investasi masa depan untuk kehidupan generasi berikutnya.*fhi

Bila beberapa langkah di atas diindahkan setiap pendaki, terutama step 2, rasanya gunung-gunung populer sekalipun padat pendakinya, bisa terbebas sampah.

Berprospek Cerah

Perlu diketahui, gunung-gunung di negeri ini pun menjadi tujuan obyek wisata petualangan yang berprospek cerah karena kian diminati pendaki mancanegara. Bila dikelola dengan baik, ke depan obyek ini berpeluang menjaring pendaki mancanegara dalam jumlah yang lebih besar.@[204876742936764:]

Bila semua gunung populer kita bersih, asri, dan lestari, pasti pendaki asing akan senang dan puas, lalu memberikan citra positif dan menceritakan ke rekannya sesama pendaki.

Sebaliknya bila kotor, bisa jadi bumerang. Mereka akan menginformasikan betapa joroknya prilaku segelintir pendaki kita hingga mungkin bisa membuat mereka enggan mendaki lagi atau pendaki asing lainnya pun mengurungkan niatnya mendaki.

Ingatlah prilaku jorok kita di gunung, dapat merusak imej seluruh pendaki di mata dunia. Nah, detik ini juga lakukanlah Green Adventuring, Green Mountaineering dalam setiap petualangan dan pendakian.

Salam Rimba Lestari!

©[Repost Doc (23/07/12/Rhaka Yoga-FHI]

¦-->> Copas hargai Kredit Penulis, thank's XD <<--¦

Follow us: @forum_hijau


Sawit Musuh Bersama !!!!!

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

SAWIT MUSUH BERSAMA!

Indonesia kini berada di masa-masa paling penting dalam sejarah energi dunia! Di saat krisis energi diramalkan akan terjadi 30 tahun ke depan karena habisnya minyak bumi, Indonesia masih bisa tenang-tenang saja karena kita memiliki Kartu As energi terbarukan di dunia. Apa kartu as tersebut? Kelapa Sawit. Tapi benarkah ramah lingkungan?

1. CPO = Cruel Palm Oil
kelapa-sawit a...
ktivis lingkungan banyak memelesetkan kepanjangan CPO yang harusnya Crude Palm Oil menjadi Cruel Palm Oil.

Mengapa tanaman ini sangat dimusuhi oleh para aktivis lingkungan hidup dan dijuluki “tanaman bengis”? Salah satu alasan utama yang tidak diketahui orang banyak adalah fakta bahwa sawit sangat rakus air. Sawit menyedot air dalam jumlah yang sangat besar hingga ke dalam tanah. Ketika 1 wilayah sudah dijadikan perkebunan sawit, maka wilayah tersebut sangat sulit untuk ditanami kembali oleh tanaman lain.

Tanah yang sudah ditanami oleh kelapa sawit menjadi kehilangan unsur hara sehingga ekosistem di sekitarnya menjadi rusak dan tak seimbang lagi. Selain hal ini, timbul banyak masalah turunan lain dari komoditas nomor 1 di Indonesia ini.

2. Kerusakan Hutan Indonesia 28 Juta Hektar, Seluas Negara Filipina!

Miris rasanya ketika 5 tahun lalu, tahun 2007, kita melihat iklan layanan masyarakat mengenai kerusakan hutan di Indonesia namun sampai sekarang tidak banyak yang peduli.

Dalam iklan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kehutanan tersebut disebutkan bahwa laju perusakan hutan Indonesia adalah 1,8 juta hektar per tahun. Dalam 1 menit perusakan hutan terjadi seluas 5 kali luas lapangan sepak bola. Dengan kata lain, dalam satu jam hutan seluas 300 lapangan sepak bola rusak. Padahal hutan ini tidak bisa dibuat lagi oleh manusia karena merupakan proses alam yang terjadi selama ratusan tahun.

Perambahan hutan yang tak terkendali untuk perkebunan sawit dituding sebagai penyebab nomor satu deforestasi. Pemerintah daerah dengan gampangnya memberikan konsesi sawit ke para pengusaha. Akibatnya deforestasi Indonesia tidak terbendung lagi.

Padahal di sisi lain, luas hutan Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah hutan di Amerika Selatan. Kondisinya saat ini adalah rata-rata laju deforestasi hutan di Indonesia dari tahun 1990 sampai 2010 mencapai 1,2 juta hektar per tahun.

Perkebunan sawit tidak pantas disebut hutan.

Biar bagaimana pun ekosistem yang heterogen tidak mungkin bisa digantikan dengan ekosistem yang homogen. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, kerugian negara akibat kerusakan hutan mencapai Rp 180 triliun. Apakah 180 triliun ini sebanding dengan ekspor sawit kita?

Tentu tidak. Uang bisa dicari namun hutan yang hilang serta satwa yang punah tidak mungkin bisa dikembalikan lagi. Sesal kemudian tidak berguna.

Bank Dunia sendiri sangat serius menanggapi isu deforestasi Indonesia. Bank Dunia sempat menghentikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit pada September 2009 akibat perusakan lingkungan yang sangat parah di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Teman-teman kami di Greenpeace dan World Wildlife Foundation (WWF) juga ikut menyerang industri kelapa sawit dengan menyebut “Palm oil: enemy number one of Indonesia’s tropical rainforests”.

3. Orang Utan Dianggap Hama Sawit
Selamat datang perkebunan sawit, selamat tinggal orang utan! Itulah harga yang harus dibayar untuk industri sawit ini. Perluasan lahan sawit mau tidak mau merusak habitat orang utan, beruang dan harimau. Tidak tanggung-tanggung, orang utan bisa tiba-tiba masuk ke rumah penduduk untuk mencuri nasi. Hal ini mereka lakukan karena memang sudah tidak ada makanan lagi karena hutan mereka sudah dirusak.

Gajah, Beruang dan harimau juga sudah kehilanggan tempat tinggalnya, akhirnya penduduk sipil merasa jiwanya terancam dari hari ke hari. Orang utan pun dibantai secara keji atas perintah para pengusaha sawit. Satu ekor orang utan dihargai 500 ribu sampai 1 juta rupiah oleh pengusaha sawit.

Padahal tidak ada maksud orang utan dan satwa liar lainnya mengganggu perkebunan sawit serta rumah penduduk. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak memiliki pilihan lain.

Manusia telah menjadi monster bagi alam, tahun 2011 saja Washington Post mencatat 750 orang utan terbunuh di Kalimantan. Padahal orang utan adalah satwa endemik Indonesia dan satu-satunya habitat asli mereka adalah Indonesia.

4. 50% Lahan Sawit Indonesia Dikuasai Asing
Untuk siapakah sawit Indonesia? Walhi mencatat bahwa saat ini 50% lahan sawit Indonesia telah dikuasai asing dengan Malaysia sebagai pemiliki mayoritas, sebesar 26%.

Konglomerasi Malaysia, Sime Darby (perusahaan sawit terbesar di dunia), sampai saat ini sudah mengantongi konsesi sawit sekitar 300.000 hektar melalui Minamas Plantation. Dengan dukungan modal yang kuat serta teknologi yang lebih canggih akibatnya banyak perusahaan sawit Indonesia yang tidak bisa bersaing.
Bukankah ini sangat tragis?

Tanah Indonesia hanya dijadikan sapi perahan dan disedot habis-habisan air tanahnya demi perkebunan sawit.

5. Kasus Mesuji - Pembantaian 30 Warga oleh Perusahaan Sawit
Pantaslah jika bisnis sawit disebut sebagai bisnis paling kontroversial di Indonesia. Inilah satu- satunya bisnis di Indonesia yang dibangun di atas tangisan, darah dan air mata rakyat kecil!

Tidak hanya orang utan yang dibantai demi bisnis sawit, tapi juga termasuk manusia! Pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung tega dilakukan oleh PT Silva Inhutani, milik warga negara Malaysia bernama Benny Sutanto alias Abeng, demi melakukan perluasan lahan sawit.

Penduduk setempat yang tadinya menanam sengon dan albasia menolak keras ekspansi lahan perusahaan ini. Akhirnya PT Silva Inhutani membentuk PAM Swakarsa yang juga dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk.
Pasca adanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011. Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat.

Kesadisan yang dilakukan atas nama bisnis sawit ini mengingatkan kita kembali pada film G30S/PKI. Ironisnya, aparat kepolisian kita yang seharusnya bisa melindungi dan mengayomi kepentingan masyarakat sipil justru mau menjadi kaki tangan pengusaha Malaysia.

6. Hengkangnya GAPKI dari RSPO
Roundtable on Suistanable Palm Oil (RSPO) sangat menyayangkan langkah Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) yang keluar dari keanggotaan RSPO pada 22 September 2011 lalu.

RSPO adalah sebuah organisasi internasional yang memberikan sertifikasi pada komoditas CPO. Sertifikasi RSPO pada CPO inilah yang menyatakan bahwa komoditas CPO tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan bagi lingkungan hidup.

Dari hengkangnya GAPKI ini kita bisa melihat bahwa para pengusaha sawit Indonesia ingin menang sendiri dan tidak mau tunduk pada sertifikasi internasional yang mendunia. Di sisi lain, Malaysia sebagai penghasil sawit terbesar kedua di dunia terlihat lebih arif dengan tetap mempertahankan keanggotaannya di RSPO. Keluarnya GAPKI dari RSPO ini pula yang menjadi salah satu penyebab Amerika Serikat menolak sawit Indonesia dengan alasan tidak ramah lingkungan.

Selain AS, selama ini Uni Eropa juga mempersyaratkan standar RSPO pada ekspor kelapa sawit ke kawasan itu.
Jadi ada kemungkinan juga ke depannya negara-negara lain akan ikut menolak sawit Indonesia dan lebih memilih sawit Malaysia yang sudah memiliki sertifikasi internasional dari RSPO.

7. Tidak Ramah Lingkungan
Environmental Protection Agency, otoritas AS yang perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup. Penolakan AS ini tentu membuat daya saing kelapa sawit Indonesia melemah. Oleh karena itu, wajar jika Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, turut berang.

Namun menyalahkan dan mengkambinghitamkan AS atas boikot ini adalah tindakan yang tidak tepat. Janganlah buruk rupa cermin dibelah.

Seharusnya fokus utama pemerintah bukanlah membuka lahan sawit baru. Ketegasan pemerintah dalam penerapan regulasi ada tentunya akan mampu menjaga kelestarian hayati.

©[Repost Doc (07/07/12) FHI/Berbagai sumber]

Follow us: @forum_hijau


Menggunakan Komputer yang Ramah Lingkungan

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

Menggunakan Komputer yang Ramah Lingkungan

Bagaimana menggunakan komputer dengan ramah lingkungan atau setidaknya untuk menghemat energi listrik?

1. Matikan komputer sobat greener di malam hari sehingga komputer hanya digunakan selama 8 jam – untuk menghemat penggunaan energi hingga 810kWh per tahun dan 67 persen penggunaan.*fhi

2. Sambungkan komputer sobat greener ke surge protector dengan mas...
ter control outlet, sehingga secara otomatis dapat mengetahui saat komputer tidak digunakan untuk kemudian memutus sambungan listrik ke komputer dan perlengkapannya.*fhi

3. Belilah layar datar – karena layar datar menggunakan lebih sedikit energi dan tidak membuat mata bekerja lebih keras seperti pada CRT.

4. Belilah komputer yang dilengkapi Energy Star. Sebagai catatan, laptop menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan desktop.

5. Rencanakan penggunaan komputer sehingga semua kegiatan dapat diselesaikan dalam satu waktu, dan matikan saat tidak agi digunakan.

6. Pertimbangkan menggunakan monitor yang lebih kecil – monitor berukuran 14 inci menggunakan 40 persen energi lebih rendah dibandingkan dengan monitor 17 inci.

7. Lupakan screen saver - screen saver tidak menghemat energi kecuali masih menggunakan monitor monochrome yang lama.

8. Lihat ulang rancangan dokumen dan email pada layar dari pada mencetaknya.

9. Pertimbangkan untuk menggunakan printer ink-jet – walaupun lebih lambat dari pada menggunakan printer laser, tapi inkjet menggunakan 80-90 persen energi lebih sedikit.

10. Belilah produk tinta yang berbahan dasar dari tumbuhan atau non-minyak – karena produk tersebut dibuat dari sumber yang didaur ulang, membutuhkan lebih sedikit penggunaan materi berbahaya dan menghasilkan warna yang lebih terang dan jernih.

11. Matikan printer sobat greener dan semua perangkat pelengkap lainnya apabila tidak digunakan.

12. Jangan biarkan komputer sobat greener tetap menyala pada malam hari atau pada akhir minggu.

13. Pilihlah warna yang gelap sebagai latar belakang tampilan layar, karena tampilan warna terang menggunakan lebih banyak energi.

14. Kurangi tingkat pencahayaan ruangan pada saat bekerja menggunakan komputer.

15. Gunakan jaringan dan share printer apabila memungkinkan.

16. Cetaklah dengan menggunakan kertas daur ulang. Gunakan kertas yang tidak menggunakan klorin dengan 50 hingga 100 persen post-consumer waste.

17. Cetak di dua sisi kertas.

18. Komunikasi melalui email sebagai alternatif pengganti memo dan fax.

©[Repost Doc (16/10/12) -FHI]

Follow us: @forum_hijau


Bahaya Tidur Dengan Peralatan Listrik Menyala


Bahaya Tidur Dengan Peralatan Elektrik Menyala

Beberapa diantara kita punya kebiasaan tidur sambil nyalakan TV, Laptop, dan atau pakai headset. Tahukah Sobat greener, bahwa kebiasaan itu sangat berbahaya?

Tidur merupakan kebutuhan alami manusia.
Dengan tidur yang berkualitas, metabolisme tubuh ditata kembali. Kita juga memiliki kesempatan untuk melakukan regenerasi mengganti sel-sel tubuh yang ...
mati.*fhi

Nah tahukah Kamu, bagaimana cara mendapatkan tidur yang baik dan berkualitas?

Salah satu caranya adalah dengan memadamkan lampu di waktu tidur normal (9 malam hingga 8 pagi) demi mendapatkan hormon melatonin secara maksimal.*fhi

Hormon Melatonin Adalah zat yang dihasilkan oleh kelenjar
pineal didalam otak yang pembentukannya dipicu oleh gelap dan berfungsi mengatur bioritme atau irama tubuh dalam hal
pengaturan tidur. Kadarnya paling tinggi ditemukan menjelang pagi hari sekitar jam 02.00 – 04.00 dan paling rendah di sore hari.*fhi Ini juga menjawab kenapa orang semakin bertambah usia semakin sedikit tidurnya, karena secara alamiah, produksi hormonmelatonin ini juga akan mengalami penurunan,sejalan dengan pertambahan usia manusia. @[204876742936764:]

Penurunan yang drastis biasanya terjadi sekitarusia 40 tahun
sehingga dengan menurunnya hormon ini maka kualitas tidurpun akan menurun dan sering berefek pada kesulitan tidur.*fhi

Manfaat lain melatonin adalah sebagai anti oksidan yang larut dalam lemak dan air, meningkatkan imun tubuh menimbulkan relaksasi otot dan membantu meningkatkan
mood dan menghilangkan ketegangan.

Jadi sebaiknya kalau tidur lampu dimatikan agar bisa memaksimalkan produksi melatonin. Memang, ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman, atau bahkan tidak dapat tidur pada kondisi gelap. Namun jika melihat manfaat atau dampaknya, hal ini perlu diperhatikan juga.

Antara lain dengan tidak tidur di bawah pencahayaan langsung (dari lampu kamar), terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Matikan Televisi dan Musik
Kebiasaan tidur sambil mendengarkan musik, ataumenonton televisi sampai tertidur, ataumembiarkan lampu di ruangan
menyala terang,memang sulit dihilangkan dan menurut sebagianorang kondisi seperti itu membuat mereka menjadi lebih cepat tertidur.*fhi Tetapi pada kenyataannya setelah
terbangun mereka merasa lebih tegang (stress) Bahkan ada yang merasa seperti tidak tidur semalaman.

Penjelasannya :
Pada saat kita tidur sebetulnya otak tidak pernah tidur. Otak selalu menjalankan aktivitasnya walaupun tidak sesibuk seperti di saat bangun,yaitu menjalankan sistem metabolisme tubuh.

Pada malam hari, seiring menurunnya aktivitas tubuh, ritme gelombang otak pun mengalamipenurunan. Namun apabila kita tidur sambilmendengarkan musik, televisi dalam keadaanhidup atau lampu ruangan sedang menyala terang,maka gelombang suara atau cahaya yangdipancarkan oleh
peralatan tersebut tetap diterima oleh indera pendengaran dan penglihatan Sobat greener.

Gelombang suara diterima oleh alat pendengaran di dalam telinga dan gelombang cahaya tetap dapat menembus kelopak mata dan diterima oleh retina dan lensa mata.

Gelombang-gelombang tersebutakan diteruskan ke otak kita. Otak yang harusnya beristirahat akan kembali terangsang untuk bekerjadan mengolah informasi yang masuk.

Apabila hal ini berlangsung sepanjang malam,berarti kita hanya tidur menurut tubuh luar, tetapi tidak menurut otak. Otak akan terus bekerja mengolah informasi yang masuk tersebut.

Jadi jangan biarkan otak sobat greener kelelahan karena harus tetap bekerja pada malam hari, sedangkan di siang hari otak juga akan diperas oleh kegiatan rutin kita.

Dan tentu, selain berdampak positif bagi kesehatan. Kamu juga turut andil dalam menghemat energi dan menjadi pahlawan bagi Ibu Bumi!

©[Repost Doc (06/05/12) FHI]

Follow Us: @forum_hijau

Wujudkan Pembangunan Kota Hijau

Repost dari Forum Hijau Indonesia 

Wujudkan Pembangunan Kota Hijau

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang berupaya terus mendorong pemerintah daerah mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui program tematik implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berupa Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) dan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP).

"Prakarsa perwujudan Kota Hijau melalui pr...
ogram ini merupakan tahapan yang lebih maju dalam siklus pelaksanaan penataan ruang, yang tidak berhenti pada tataran perencanaan, namun telah bergulir pada tataran implementasi rencana. Kami ingin mendorong masing-masing kota melakukan ini," ujar Menteri PU Djoko Kirmanto dalam sambutan pembuka kegiatan Sarasehan dan Penandatangan Kesepakatan Perwujudan Kota Hijau dan Kota Pusaka.

Tahun ini, bertepatan dengan peringatan Hari Tata Ruang (Haritaru) dunia yang jatuh pada 8 November, Kementerian PU berupaya menyebarkan awareness terhadap kepedulian tata ruang. Untuk itu, Kementerian PU juga menjalin kerjasama dengan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia untuk menyiapkan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP).

"Ini merupakan program tematik dalam rangka implementasi RTRW melalui upaya penataan dan pelestarian kekayaan aset sosial dan budaya kota," ujarnya.

Djoko berharap, melalui program ini pemerintah akan mendorong masing-masing kota berwarisan budaya untuk menyusun Rencana Manajemen Kota Pusaka serta mendorong pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan Kota Pusaka. Dengan demikian, pada saatnya nanti kota-kota tersebut dapat mewujudkan RTRW yang berwawasan budaya dan berkarakter.

"Yang dalam jangka panjangnya nanti diakui oleh UNESCO menjadi salah satu World Heritage City," katanya.
Sementara itu, Deputi V Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Luky Eko Wuryanto, yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus sebagai Ketua BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional), momentum Haritaru dapat menjadi salah satu instrumen kampanye publik tentang pentingnya penataan ruang sebagai basis legal kebijakan spasial pembangunan kota dan wilayah.

"Dalam kaitan ini, peran BKPRN menjadi sangat signifikan karena diharapkan dapat menjadi lokomotif reformasi penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia," ujar Luky.

Dalam pelaksanaannya, Haritaru menjadi salah satu bentuk upaya mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pembangunan perkotaan yang ramah lingkungan serta perwujudan ruang yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan sesuai amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dukungan pun datang dari berbagai pihak terkait, antara lain Forum Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), pemerintah daerah, komunitas-komunitas pecinta lingkungan, Sustainable Urban Development Forum Indonesia (SUD-FI) dan pengkaji pembangunan perkotaan serta dunia usaha dalam upaya bersama merespon permasalahan kota yang semakin komplek.

"Tantangan perubahan iklim khususnya di kota-kota metropolitan dan kota besar yang menghadapi tantangan besar degradasi kualitas lingkungan," ujarnya.


Indonesia Gaungkan Konsep Karbon Biru (Blue Carbon)

Repost dari Forum Hijau Indonesia

INDONESIA GAUNGKAN KONSEP KARBON BIRU (BLUE CARBON)
Para peneliti di Indonesia terus menggaungkan konsep karbon biru (blue carbon) sebagai salah satu kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon di dunia. "Konsep karbon biru pertama kali diluncurkan sekitar Febuari 2010 pada saat pertemuan the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum di Bali oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Fadel Muhammad) dan Direktur UNEP Achim Steiner," kata Andreas A. Hutahaean, PhD, salah seorang peneliti dari Badan Litbang Kelautan dan Perikanan yang terlibat dalam tim Blue Carbon Indonesia, di Jakarta.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian, konsep karbon biru adalah salah satu solusi yang menjanjikan bagi upaya menekan laju perubahan iklim dan mengurangi timbunan CO2 di atmosfer. Karbon biru, secara prinsip, merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida di Bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput laut, dan ekosistem pesisir. Vegetasi pesisir diyakini oleh kalangan peneliti dapat menyimpan karbon 100 kali lebih cepat dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan.

"Selain itu, peran vegetasi pesisir memiliki keuntungan yang berganda. Bisa untuk tempat pengembangbiakan ikan, untuk menjaga erosi air laut, dan pariwisata bahari," ujar Andreas. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk penelitian karbon biru, "Kami sudah mencoba menerapkannya sejak 2010 melalui pilot project Blue Carbon di Teluk Banten dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur."

Dari penelitian Blue Carbon yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), padang lamun memiliki potensi menyerap dan menyimpan karbon sekitar 4,88 ton/Ha/tahun. Total ekosistem padang lamun di Indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon /tahun.

Untuk ekosistem mangrove, rata-rata penyerapan dan penyimpanan karbon sebesar 38,80 ton/Ha/ tahun. Jika di hitung secara total maka potensi penyerapan karbon ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton/tahun. Di samping kedua ekosistem tersebut, rumput laut merupakan komoditas ekonomi penting Indonesia yang berperan penting menyerap emisi karbon. Melalui proses fotosintesis, rumput laut menyerap antropogenik karbon yang berada di daerahnya.

Menurut data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan, luas lahan budidaya rumput laut sekitar 1,11 juta Ha dengan jumlah produksi tahun 2011 sebesar 4,31 juta ton. Maka dengan rasio perbandingan rata-rata biomassa:karbon = 3:1, potensi penyerapan karbon oleh rumput laut adalah sebesar 1,44 juta ton karbon pada 2011.

©[FHI/Antara]

Follow us: @forum_hijau

Besaran Panjang

    Panjang adalah jarak dalam suatu ruang. Misalnya saja tangan anda, jarak antara siku dan ujung jari terjauh anda disebut pula satu cubit. Ukuran satu cubit ini digunakan selama lebih dari 4000 tahun lalu di Mesir dan Mesopotamia. Piramida sebagai satuan panjang. Piramida besar masa lalu dibangun dengan standar cubit. Karena panjang tangan orang berbeda-beda maka besar satu cubit setiap orang berbeda-beda. Sekarang orang menggunakan meter sebagai satuan SI. Semula satuan meter ditetapkan sebagai jarak antara dua goresan pada meter standar sehingga jarak dari kutub utara ke khatulistiwa melalui Paris adalah 10 juta meter. Meter standar adalah sebuah batang yang terbuat dari campuran platina-iridium.
     Meter standar sulit untuk dibuat ulang. Karena itu, dibuatkan turunan-turunannya dengan proses yang sangat teliti dan disebarkan ke berbagai laboratorium standar di berbagai negara. Standar sekunder inilah yang digunakan untuk mengkalibrasi berbagai alat ukur lain.
     Ada beberapa kendala dalam penggunaan meter standar sebagai standar primer untuk panjang. Pertama, meter standar mudah rusak (misalnya oleh kebakaran) dan jika rusak batang tersebut sukar dibuat ulang. Kedua, ketelitian pengukuran tidak lagi memadai untuk ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Sebagai bukti adalah diperlukannya koreksi-koreksi perhitungan dalam perjalanan misi ruang angkasa.Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pada pertemuan ke-11 Konferensi Umum Timbangan dan Ukuran tahun 1960, ditetapkan suatu standar atomik untuk panjang. Pilihan jatuh pada gelombang cahaya yang dipancarkan oleh gas kripton-86 (Kr-86). Satu meter didefinisikan sama dengan 1650761,73 kali panjang gelombang sinar jingga yang dipancarkan oleh atom-atom gas kripton-86 (Kr-86) di dalam ruang hampa pada suatu loncatan listrik (CGPM ke-11, 1960). Meter yang diatomkan ini sama panjang dengan meter standar. Meter ini dibuat ulang dengan ketelitian yang tinggi.
     CGPM adalah singkatan dari Conference Generales des Poids et Measures - Konferensi Umum Timbangan dan Ukuran, yaitu suatu badan yang bernaung di bawah Organisasi Internasional Timbangan dan Ukuran (OIPM-- Organisation Internatinale des Poids et Measures). Tugas badan ini antara lain mengadakan konferensi sedikitnya satu kali dalam enam tahun dan mengesahkan ketentuan baru dalam bidang metrologi dasar. 
Definisi baru satuan meter
     Sejak lama sudah diketahui bahwa laju cahaya dalam vakum adalah tetapan dengan nilai 299792458 m/s, dengan ketelitian sama dengan ketelitian c, yaitu 4 : 10^9 ( lebih teliti daripada menggunakan loncatan listrik oleh atom-atom Kr-86 dengan ketelitian 1:10^8). Karena alasan itulah ahli metrologi sepakat untuk membuang definisi yang berhubungan dengan pancaran atom kripton dan menggantikannya dengan meter  yang berhubungan dengan tetapan c dalam sekon. Definisi baru satuan meter menjadi : "satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya (dalam vakum) dalam selang waktu 1/299792458 sekon" (CGPM ke-17, 1983)

Besaran dan Satuan

Besaran fisika adalah segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Besaran fisika dikelompokkan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak diturunkan dari besaran lain. Terdapat tujuh besaran pokok, yaitu : panjang, massa, waktu, suhu, kuat arus listrik, intensitas cahaya dan jumlah zat. Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari satu atau lebih besaran pokok.

Sistem Internasional
Sebelum adanya standar internasional, hampir setiap negara menetapkan sistem satuannya sendiri. Sebagai contoh, satuan panjang di Indonesia dulunya adalah hasta dan jengkal, di Inggris yang satuan panjang digunakan adalah inci dan kaki (feet) dan di Perancis digunakan meter. Penggunaan bermacam-macam satuan untuk suatu besaran ini menimbulkan kesulitan. Kesulitan yang pertama adalah diperlukannya bermacam-macam alat ukur yang sesuai dengan satuan yang digunakan. Dan kesulitan yang kedua adalah kerumitan konversi dari satu satuan ke satuan lailn, misalnya dari jengkal ke kaki. Ini disebabkan tidak adanya keteraturan yang mengatur konversi satuan-satuan tersebut.
Akibat kesulitan yang ditimbulkan oleh penggunaan sistem satuan yang berbeda tersebut, maka muncul gagasan untuk menggunakan hanya satu jenis satuan untuk besaran-besaran dalam ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Suatu perjanjian internasional telah menetapkan satuan sistem internasional (International System of Units) disingkat satuan SI. Satuan ini diambil dari sistem metrik yang telah digunakan di Perancis setelah revolusi tahun 1789. Karena ada tujuh besaran pokok maka terdapat pula tujuh satuan pokok dalam SI yaitu : meter (m) sebagai satuan panjang, kilogram (kg) sebagai satuan massa, sekon (s), sebagai satuan waktu, ampere (A) sebagai satuan kuat arus listrik, kelvin (K) sebagai satuan suhu, candela (cd)  sebagai satuan intensitas cahaya dan mole (mol) sebagai satuan jumlah zat.

Rabu, 14 November 2012

PEMBANGUNAN LAHAN GAMBUT BERKELANJUTAN, MUNGKINKAH ?

Gambut adalah tanah lunak, organik, sulit dipindahkan serta mempunyai daya dukung yangsangat rendah. Gambut merupakan akumulasi dari bahan organik yang berasal dari sisa-sisa jaringan tumbuhan atau vegetasi alami pada masa lampau. Tanah gambut biasanya terbentuk didaerah cekungan atau depresi di belakang tanggul suungai yang selalu jenuh air karena drainasenya terhambat, sehingga proses dekomposisi terjadi sangat lambat. 

Indonesia memiliki lahan gambut kurang lebih seluas 27 juta hektar yang terpusar di pulai Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya dan sebagian kecil di Sulawesi. Lahan gambut mempunyai fungsi yang sangat penting dalam tata air kawasan sebab gambut bersifat seperti busa yang dapat menyerap kelebihan air di musim hujan sehingga mencegah banjir dan melepaskan kandungan airnya secara perlahan di musim kemarau. Rawa gambut juga menjadi tempat berlindungnya berbagai hewan spesies langkan seperti harimau Sumatra, orang utan, ikan arwana, dan buaya sinyulong. Berbagai jenis kayu bernilai ekonomis tinggi juga dapat ditemukan di rawa gambut antara lain ramin, kayu putih, jelutung dan meranti rawa.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Sehingga pengertian dari pembangunan lahan gambut berkelanjutan adalah pemanfaatan lahan gambut secara tepat, efektif dan efisien sehingga memenuhi kebutuhan manusia saat ini namun tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan ataupun ekosistem gambut sekitar dan tidak menimbulkan kerugian atau dampak negatif untuk generasi muda di masa mendatang. Sekarang pertanyaannya adalah mungkinkah pembangunan lahan gambut berkelanjutan itu bisa dilakukan?

Pemanfaatan lahan gambut yang selama ini untuk pertanian dan perkebunan sebenarnya kurang begitu tepat. Untuk memanfaatkan lahan gambut, lahan gambut harus dikurangi kandungan airnya dengan cara drainase. Tanpa membuat saluran drainase atau kanal pada gambut dipastikan hanyas jenis pohon asli setempat saja yang bisa tumbuh dalam kondisi jenuh air atau daerah yang dominan basah, misalnya ramin , meranti rawa dan lailn-lain. Pembuatan drainase menyababkan penurunan air tanah sehingga akan terjadi perubahan suhu dan kelembapan yang menyebabkan pelapukan. Pelapukan bahan organik tersebut memang menghasilkan hara bagi tanaman namun juga menghasilkan asam organik yang berpengaruh lebih kuat dan dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman. Selain berpotensi menyebabkan keracunan bagi tanaman, seperti yang telah diketahui lahan gambut juga berpotensi menghasilkan emisi karbon yang sangat besar. Emisi karbon yang sangat besar ini bisa semakin menambah buruk pemanasan global yang juga akan menyebabkakn perubahan iklim.

Apakah pembangunan lahan gambut berkelanjutan bisa dilakukan? Bisa asal lahan gambut dimanfaatkan secara tepat tanpa mengubah sifat dan fungsi lahan gambut tersebut dalam ekosistem. Lahan gambut dibiarkan saja seperti apa adanya sehingga hanya tanaman-tanaman yang sesuai dengan kondisi jenuh air seperti dalam gambut, yang bisa hidup. Kalaupun mau membudidayakan tanaan tertentu usahakan tanaman yang sesuai dengan lahan gambut dan melakukan drainase atau pengeringan lahan gambut.

Hemat Air Yuk !



      Awal september lalu banyak berita mengenai kekeringan di daerah-daerah di Indonesia. Kelangkaan air dimana-mana, air bersih tak lagi tersedia, sampai-sampai ada orang yang mengambil air dari sungai-sungai yang hampir mongering dengan warna air yang keruh dan kualitas airnya tidak terjamin, bersih tidaknya juga tidak terjamin. Ironis memang, di negara yang dikelilingi air ini malah penduduknya kekurangan air.
      Masalah utama dari kekeringan ini sebenarnya adalah bagaimana kita memanajemen air. Ketika musim hujan kita kebanjiran, ketika kemarau panjang kita kekurangan air bersih. Jika setiap orang bisa memanajemen penggunaan airnya dengan baik, berapa banyak air yang bisa kita hemat, berapa banyak air yang bisa kita simpan saat kemarau panjang datang. Jika setiap orang sadar bahwa daerah tangkapan hujan itu penting dan alih-alih terus-terusan membangun bangunan setiap orang memilih untuk menanami tanahnya dengan pepohonan pasti cadangan air tanah kita akan melimpah dan banjir juga terhindarkan. Jika setiap orang menyingkirkan rasa egoisnya sejenak untuk  memiliki sumber airnya sendiri dan menggunakan satu sumur untuk beberapa keluarga, pasti akan lebih efektif dan efisien.
      Terus tanamkan budaya hemat air, menggunakan air lebih efektif dan efisien. Contoh  kecilnya antara lain mematikan keran apabila ari sudah tidak digunakan, segera menutup saluran air yang bocor, mencuci mobil atau motor sendiri dengan air diember daripada dengan menggunakan selang karena penggunaan selang akan lebih banyak membuang air, mengurangi konsumsi air minum kemasan karena dalam proses produksinya air minum kemasan menggunakan lebih banyak air dalam proses pengemasannya, lebih baik memasak air sendiri, dan lain-lain.

Rabu, 07 November 2012

Akan datang

Satu senyuman mengagumkan
untukmu yang selalu meragukan
akan datang kesempatan
dalam setiap kesakitan
dalam setiap pengacuhan
dalam setiap keadaan dimana kau mengabaikan
ataupun diabaikan
akan datang harapan
dalam setiap penipuan
dalam setiap hal yang dibilang kewajiban
dalam janji-janji
yang belum tentu tertepati
atau malah sengaja diingkari
akan datang pelangi
setelah matahari pergi
setelah awan tak lagi membiaskan
cahaya dari sang mentari

Karakteristik Radiasi Matahari - Spektrum Elektromagnetik



Meskipun hanya sebagian kecil dari radiasi yang dipancarkan matahari diterima permukaan bumi, namun radiasi matahari (matahari=surya) merupakan sumber energy utama untuk proses-proses fisika atmosfer. Proses-proses fisika atmosfer tersebut menentukan keadaan cuaca dan iklim di atmosfer bumi kita ini. Radiasi matahari, yang merupakan gelombang elektromagnetik, dibangkitkan dari proses fusi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium.
Permukaan matahari bersuhu 6000 K meskipun bagian dalamnya bersuhu jutaan derajat Kelvin. Dengan suhu permukaan tersebut, radiasi yang dipancarkan berupa gelombang elektromagnetik sebesar 73.5 juta watt tiap m2 permukaan matahari (dapat dihitung dengan persamaan Stefan-Boltzman). Dengan jarak rata-rata matahari-bumi sejauh 150 juta km (Trewartha & Horn 1980), radiasi yang sampai di puncak atmosfer rata-rata sebesar 1368 W m-2. Sedangkan radiasi matahari yang sampai di permukaan bumi (daratan atau lautan) hanya sekitar setengah dari yang diterima di puncak atmosfer, karena sebagian akan diserap dan dipantulkan kembali ke angkasa luar oleh atmosfer khususnya oleh awan. Rata-rata sebesar 30% radiasi matahari yang sampai di bumi dipantulkan kembali ke angkasa luar (Wallace & Hobbs 1977).

Karakteristik Radiasi Matahari
Spektrum elektromagnetik
Spektrum elektromagnetik terdiri dari semua rentang frekuensi dan panjang gelombang. Gelombang eletromagnetik dapat merambat pada kondisi vakum maupun tidak vakum. Dalam kondisi vakum, sifat gelombang lebih menonjol. Sedangkan pada saat gelombang tersebut berinteraksi dengan atom atau molekul, maka gelombang tersebut berperilaku seperti berkas korpuskul (partikel kecil) yang dinamai foton (photon) atau kuanta cahaya (quanta) (Jones 1986, Bueche 1989). Spektrum elektromagnetik mengatur tipe energi berdasarkan panjang gelombang dan frekuensinya. Puncak panjang gelombang (λm, dalam nm) dari radiasi yang dipancarkan suatu objek tergantung pada suhu objek tersebut sesuai dengan Hukum Pergeseran Wien:

λm = 2897000 / T

dengan T suhu permukaan dalam K. Matahari yang T ≈ 6000 K memancarkan energi yang maksimum pada panjang gelombang λm = 480 nm. Pancaran energi matahari mencakup keseluruhan spektrum elektromagnet, tetapi atmosfer bumi hanya transparan untuk sebagian cahaya inframerah dan ultraviolet dan keseluruhan cahaya tampak; sehingga spektrum yang sampai ke permukaan bumi terkonsentrasi pada gelombang dengan panjang antara 300 – 3000 nm (Hal & Rao 1977, Monteith 1973, Chang 1968). Sebagian besar energy radiasi matahari terletak pada selang panjang gelombang 300 – 3000 nm tersebut dan dikenal dengan istilah radiasi gelombang pendek (short-wave radiation). Ini membedakannya dengan energi radiasi yang dipancarkan oleh sebagian besar benda-benda di permukaan bumi (yang memiliki suhu permukaan sekitar 300 K) yang terletak pada selang panjang gelombang 3000 – 100000 nm yang dikenal dengan istilah radiasi gelombang panjang (long-wave radiation) atau kadang disebut radiasi terestrial atau termal (Unwin 1980, Jones 1983).


Spektrum radiasi matahari dibedakan menjadi beberapa pita spectrum (spectral bands) yang dinamai berdasarkan warna sebagaimana disajikan pada tabel diatas Secara garis besar, spektrum radiasi matahari dibagi menjadi ultra violet (100 – 380 nm), cahaya tampak (380 – 780 nm), dan infra merah (780 –2500 nm). Bagian spektrum infra merah dari radiasi gelombang pendek dengan panjang gelombang kurang dari 3000 nm dinamai “infra merah dekat (near infrared, NIR)”; untuk membedakan dengan spekrum infra merah yang berasal dari radiasi gelombang panjang yang dinamai “infra merah jauh (far infra red, FIR)”.
Pada spektrum cahaya tampak terdapat berbagai macam warna; misal violet (λ = 400 nm), biru (λ = 500 nm), hijau (λ = 550 nm ), kuning (λ = 600 nm), oranye–merah (λ = 650 nm), dan merah (λ = 700 nm). Spektrum dengan panjang gelombang antara 400 – 700 nm (secara garis besar sama dengan cahaya tampak) sering disebut dengan istilah photosynthetically active radiation (PAR) (Hall & Rao 1977, Hall 1980, Yates 1991).